September 6, 2014

Hic et nunc*

As we grow up, we learn that even the one person that wasn't supposed to ever let us down, probably will. You'll have your heart broken and you'll break others' hearts. You'll fight with your best friends or maybe even fall in love with them, and you'll cry because time is flying by.

So take lots of pictures, laugh a lot, forgive freely, and love like you've never been hurt. Life comes with no guarantees, no time outs, no second chances. You just have to live life to the fullest, tell someone what they mean to you, speak out, dance in the pouring rain, hold someone's hand, comfort a friend in need, fall asleep watching the sun come up, stay up late, and smile until your face hurts.

Don't be afraid to take chances or fall in love and most of all, live in the moment because every second you spend angry or upset is a second of happiness you can never get back.

* Here and now
** Take from Antologi Rasa

August 26, 2014

Yeah, sometimes!

Sometimes in a relationship, you have to stop paying too much attention to details and just rely on the big picture. And in my case, the big picture is that we love you.

June 19, 2014

Sesederhana Itu

Kau membuka pagiku.
Dan juga menutup malamku.
Sesederhana itulah aku menginginkanmu.

May 23, 2014

Apa Yang Membuat Kamu Bertahan?

"Apa yang membuat kamu bertahan sejauh ini?"
"Entah"
"Kamu seperti berjuang sendirian untuk meyakinkan mereka"
"....."
"Karena uang mungkin?"
"Jika karena itu, aku mungkin sudah lama pergi"
"Lalu karena apa?"
Perempuan itu hanya terdiam dan berusaha mengingat. Bola matanya mencoba menghindar dari tatapan teduh di depannya. Takut ia dapat membaca apa yang menjadi alasan. Dan mungkin tidak cukup masuk akal untuk sebagian orang.

Otaknya berpikir keras. Mencari padanan kata yang bisa diterima oleh akal sehat.
"Karena aku... mungkin"
Shit! Perempuan itu mengutuk jawaban yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Maksudnya?"
Damn! Harusnya perempuan itu tahu bahwa apapun yang keluar dari bibir mungilnya akan ditanyakan. Sekejap tadi benaknya berlarian tak tentu arah. Ini pasti gara-gara soal matematika yang pagi tadi ia kerjakan.

April 14, 2014

Mau Kamu Apa?

"Kamu mau apa sih?"
"Ga mau apa-apa"
"Yaaa teruuusss?"
"Ya ga terus-terus ntar nabrak"
"Terus kenapa kamu kaya gini?"
"Gini gimana?"
"Ya nyebelin!"
"Masa sih? Biasa aja kali"
"Ya buat kamu biasa, buat aku ga biasa"
"Yaudah dibuat jadi biasa aja"
"AAAARRGGHHH!"
"Ga usah emosi, ntar cepet keriput"
"Kamu berubah"
"Setiap orang berubah kan"
"Kamu uda ga sayang lagi sama aku"
"Sayang"
"Kenapa cuek?"
"Ya emang aku gini. Ko baru sadar?"

#KibarinBenderaPutih

February 22, 2014

Hujan


Jika hujan serupa pelukmu.
Aku rela rintiknya jatuh membasahi ubun-ubun.
Hingga berputar duniaku.

Setengah Dua Dini Hari

Kamu tahu pukul berapa ini?
Setengah dua dini hari.
Tangan ini masih sanggup mengetik hingga malam menjelang lagi.
Namun hati?
Teriak ingin berhenti.
"Sudahi!"
Tangan kanan berhenti.
Tangan kiri menikam nadi.
Mati!

February 21, 2014

Untuk Kamu

Untuk kamu yang (mungkin) hari ini (sangat) membutuhkan dia. Dia telah meresapi rangkaian cerita. Kata yang (mungkin) bukan ditujukan untuk dia.

Perlu kamu berikan tanda. Bahwa dia merasa yang sama. Mendamba bercerita di tepi Gangga. Tak ada kata. Pun juga sapa. Hanya Kamu dan dia. Berdua.

Waktu pernah menjadi sangat mahal untuk di sua. Dan ketika kamu bertemu realita. Semua tak lagi sama.

January 1, 2014

Kotak Cokelat Empat Susun

Perlu waktu agak lama untuk saya memutuskan membongkar kotak cokelat dengan rak empat susun di dalamnya.

Banyak memorabilia yang sengaja saya simpan disana. Dan hari ini saya memutuskan untuk membuka lagi satu persatu.

Di rak teratas, saya menemukan baju-baju yang mulai mengecil. Ga hanya mengecil tapi juga menguning. Ga cuma satu tapi banyaaakkk. Sedih rasanya melihat baju kesayangan saya dulu, sudah ga muat dijejali perut saya yang buncit ini. Hiks! *unyelunyelpeyut

Di rak kedua, saya menemukan tas-tas betebaran. Ada juga celana-celana yang ga pernah saya pakai sejak pertama mamah saya beliin. Maaf mah, that kind of trouser is not my type. Saya melipat celana-celana tersebut dengan manis dan menyimpannya untuk seseorang.

Di rak ketiga, saya menemukan lima SIM Card yang saya pakai sepuluh tahun lalu untuk merenda cerita. Iya ada lima, kamu ga salah baca. Saya coba memasukkan satu persatu kartunya. Rasa yang hinggap saat saya membaca pesan masuk itu persis seperti yang pernah dikatakan teman saya kemarin lalu, bahwa bukan makhluknya yang dirindukan, melainkan rasa-nya yang dirindukan.

Sambil menunggu layar ponsel menyala, saya mulai menggunting satu persatu kartu yang sudah saya baca ulang. Bersamaan dengan itu, potongan-potongan momentum saya bersama masa lalu turut menguap.

Di rak terbawah, saya menemukan tulisan tangan beberapa teman baik saat SMP hingga kuliah pada sebuah kartu ucapan ulang tahun. Beberapa bahkan lengkap beserta kardus dan hadiahnya. Dan pemberian mereka kini terpampang nyata di kamar saya. :p

Yang membuat saya senyum sendiri, saya menemukan hobi saya waktu kecil di dalam rak terakhir. Apa itu? Mengumpulkan kertas file bergambar, stiker dan kartu Sailormoon. Oemji itu surga banget! Hahaha. Dahulu, bahagia terasa sederhana, isn't it?

Hmm.. Masih banyak lagi yang saya temukan di dalam kotak cokelat dengan rak empat susun. Potongan foto lama. Serpihan puisi yang pernah saya tata. Boneka-boneka yang ga pernah saya keluarin dari kotak cokelat karena memang saya ga suka main boneka. Sepatu dalam kotak yang entah punya siapa karena saya ga pernah ngerasa punya. Bintang-bintang yang ga pernah saya pasang di dinding kamar.

Dibalik tiap kotak yang saya buka hari ini, saya belajar lagi untuk merelakan. Ga hanya merelakan kepunyaan saya menjadi milik orang lain. Ga hanya merelakan kesukaan saya untuk dipisahkan. 

Terlebih, merelakan semua rasa yang pernah saya punya, menghilang bersama dengan potongan memorabilia yang sengaja saya singkirkan.

Selamat datang, Penghuni Baru! :)

December 30, 2013

Prasangka

(c) image
Apa yang terpikir dibenakmu ketika melihat eksekutif muda ini berdiri di dekatmu dalam kereta yang berdesakan sambil membuka tab-nya?

Bayangkan kamu berada disebuah kereta ekonomi non-AC Jabodetabek yang hawanya lumayan panas. Penumpang saling berdempetan. Bahkan kebanyakan penumpang berdiri dan saling menyeimbangkan tubuh agar ga terbawa guncangan gerbong.

Seorang eksekutif muda berdiri berdesakan diantara kamu dan penumpang lain. Dia berpakaian jas elegan dengan sedikit tetesan peluh menghiasi dahinya. Namun diantara penumpang yang lain, dia terlihat berbeda dan bersih. Ga berapa lama berdiri, dia membuka handphone tabletnya yang besar. Lebih besar dibanding handphone pada umumnya. Dia sedang menyelesaikan sebuah percakapan penting dengan rekan bisnisnya. 

Tetiba, semua penumpang menoleh dan melirik dia. Apa yang terlintas dibenakmu melihat eksekutif muda tersebut? Apa yang terlintas dibenak penumpang lain?

Di pintu, ada seorang pemuda lusuh membatin,
'Huh, pamer dia dengan barangnya. Sudah tahu di kereta Ekonomi.'
Di belakang pemuda lusuh itu, seorang pedagang membatin,
'Mentang-mentang sekali HP nya seperti itu dipamerkan. Sudah tahu di kereta Ekonomi.'
Seorang nenek-nenek membatin,
'Orang muda sekarang, kaya sedikit langsung pamer. Naik kereta Ekonomi, pamer-pameran.'
Seorang emak-emak membatin,
'Mudah-mudahan suami saya ga senorak dia. Norak di kereta Ekonomi bukanlah hal terpuji.'
Seorang gadis ABG membatin,
'Keren sih keren, tapi ga banget deh sama gayanya. Kenapa ga naik kereta AC saja kalau mau pamer begituan?'
Seorang pencopet mengintai,
'Ini penghinaan buat gue. Seenggaknya gue ga bakal nilep barang terang-terangan. Nape ni orang ga naek kereta AC aje si? Pamer segala!'
Seorang pengusaha membatin,
'Sepertinya dia baru kenal 'kaya'. Atau dapat warisan. Hhh...andai dia merasakan jerih pahit saya jadi pengusaha; barang tentu saya tidak akan pamer barang itu di kereta Ekonomi. Kenapa tidak naik AC saja sih?'
Seorang ustadz kampung melirik,
'Andai dia belajar ilmu agama, tentu tidak sesombong itu. Urusan pamer, naiklah ke kereta AC.'
Seorang pelajar SMA membatin,
'Gue tau lo kaya. Tapi plis deh, lo ga perlu pamer gitu kalle' ke gua. Gua tuh ga butuh style elo. Kalo lo emang pengen diakuin, lo bisa out dari sini, terus naik kereta AC. Kalo gitu kan, lo bisa pamer abis. Di sono mah comfort gila. Illfeel gue.'
Seorang tentara membatin,
'Nyali kecil, pamer gede-gedean. Dikira punya saya tak segede itu. Kalau mau belagak pamer, pamer sekalian di kereta AC.'
Seorang penderita busung lapar membatin,
'Orang ini terlalu sombong, ingin pamer di depan rakyat kecil. Padahal kereta untuk orang semacam ini adalah kereta AC, bukan kereta ekonomi yang isinya rakyat kecil.'
Seorang mahasiswa di kampus ternama membatin,
'Gue ga tega orang begini idup. Gue agak heran, ni orang nyawanya berape. Belagu amaat! Pengen banget gue usir biar die naik kereta AC aja.'
Sang eksekutif muda tersenyum, kemudian menyimpan tablet besar itu di tas nya. Pikirannya hanya terfokus pada hal yang baru dia selesaikan dengan bantuan tabletnya. Dia tersenyum membatin,
'Alhamdulillah, akhirnya para donatur bersedia membantu semua korban banjir. Alhamdulillah. Ini kabar baik sekali.'
Lalu, dia sempatkan melihat kantong bajunya. Secarik tiket kereta ekonomi berada di dalamnya.

Dia bergumam,
'Tadi sempat tukaran karcis dengan seorang nenek tua yang mau naik kereta sesak ini. Tidak tega saya. Biarlah dia yang naik kereta AC itu. Mudah-mudahan selamat.'
***
Saya ga akan menyimpulkan apa maksud cerita di atas juga sih. Hanya sebagai pengingat saya aja, sebagai manusia biasa mungkin secara ga sadar saya juga pernah sibuk dengan prasangka buruk.


*cerita diambil dari whatsapp ke whatsapp & diedit seperlunya