June 19, 2014

Sesederhana Itu

Kau membuka pagiku.
Dan juga menutup malamku.
Sesederhana itulah aku menginginkanmu.

May 23, 2014

Apa Yang Membuat Kamu Bertahan?

"Apa yang membuat kamu bertahan sejauh ini?"
"Entah"
"Kamu seperti berjuang sendirian untuk meyakinkan mereka"
"....."
"Karena uang mungkin?"
"Jika karena itu, aku mungkin sudah lama pergi"
"Lalu karena apa?"
Perempuan itu hanya terdiam dan berusaha mengingat. Bola matanya mencoba menghindar dari tatapan teduh di depannya. Takut ia dapat membaca apa yang menjadi alasan. Dan mungkin tidak cukup masuk akal untuk sebagian orang.

Otaknya berpikir keras. Mencari padanan kata yang bisa diterima oleh akal sehat.
"Karena aku... mungkin"
Shit! Perempuan itu mengutuk jawaban yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Maksudnya?"
Damn! Harusnya perempuan itu tahu bahwa apapun yang keluar dari bibir mungilnya akan ditanyakan. Sekejap tadi benaknya berlarian tak tentu arah. Ini pasti gara-gara soal matematika yang pagi tadi ia kerjakan.

February 22, 2014

Hujan


Jika hujan serupa pelukmu.
Aku rela rintiknya jatuh membasahi ubun-ubun.
Hingga berputar duniaku.

Setengah Dua Dini Hari

Kamu tahu pukul berapa ini?
Setengah dua dini hari.
Tangan ini masih sanggup mengetik hingga malam menjelang lagi.
Namun hati?
Teriak ingin berhenti.
"Sudahi!"
Tangan kanan berhenti.
Tangan kiri menikam nadi.
Mati!

February 21, 2014

Untuk Kamu

Untuk kamu yang (mungkin) hari ini (sangat) membutuhkan dia. Dia telah meresapi rangkaian cerita. Kata yang (mungkin) bukan ditujukan untuk dia.

Perlu kamu berikan tanda. Bahwa dia merasa yang sama. Mendamba bercerita di tepi Gangga. Tak ada kata. Pun juga sapa. Hanya Kamu dan dia. Berdua.

Waktu pernah menjadi sangat mahal untuk di sua. Dan ketika kamu bertemu realita. Semua tak lagi sama.

January 1, 2014

Kotak Cokelat Empat Susun

Perlu waktu agak lama untuk saya memutuskan membongkar kotak cokelat dengan rak empat susun di dalamnya.

Banyak memorabilia yang sengaja saya simpan disana. Dan hari ini saya memutuskan untuk membuka lagi satu persatu.

Di rak teratas, saya menemukan baju-baju yang mulai mengecil. Ga hanya mengecil tapi juga menguning. Ga cuma satu tapi banyaaakkk. Sedih rasanya melihat baju kesayangan saya dulu, sudah ga muat dijejali perut saya yang buncit ini. Hiks! *unyelunyelpeyut

Di rak kedua, saya menemukan tas-tas betebaran. Ada juga celana-celana yang ga pernah saya pakai sejak pertama mamah saya beliin. Maaf mah, that kind of trouser is not my type. Saya melipat celana-celana tersebut dengan manis dan menyimpannya untuk seseorang.

Di rak ketiga, saya menemukan lima SIM Card yang saya pakai sepuluh tahun lalu untuk merenda cerita. Iya ada lima, kamu ga salah baca. Saya coba memasukkan satu persatu kartunya. Rasa yang hinggap saat saya membaca pesan masuk itu persis seperti yang pernah dikatakan teman saya kemarin lalu, bahwa bukan makhluknya yang dirindukan, melainkan rasa-nya yang dirindukan.

Sambil menunggu layar ponsel menyala, saya mulai menggunting satu persatu kartu yang sudah saya baca ulang. Bersamaan dengan itu, potongan-potongan momentum saya bersama masa lalu turut menguap.

Di rak terbawah, saya menemukan tulisan tangan beberapa teman baik saat SMP hingga kuliah pada sebuah kartu ucapan ulang tahun. Beberapa bahkan lengkap beserta kardus dan hadiahnya. Dan pemberian mereka kini terpampang nyata di kamar saya. :p

Yang membuat saya senyum sendiri, saya menemukan hobi saya waktu kecil di dalam rak terakhir. Apa itu? Mengumpulkan kertas file bergambar, stiker dan kartu Sailormoon. Oemji itu surga banget! Hahaha. Dahulu, bahagia terasa sederhana, isn't it?

Hmm.. Masih banyak lagi yang saya temukan di dalam kotak cokelat dengan rak empat susun. Potongan foto lama. Serpihan puisi yang pernah saya tata. Boneka-boneka yang ga pernah saya keluarin dari kotak cokelat karena memang saya ga suka main boneka. Sepatu dalam kotak yang entah punya siapa karena saya ga pernah ngerasa punya. Bintang-bintang yang ga pernah saya pasang di dinding kamar.

Dibalik tiap kotak yang saya buka hari ini, saya belajar lagi untuk merelakan. Ga hanya merelakan kepunyaan saya menjadi milik orang lain. Ga hanya merelakan kesukaan saya untuk dipisahkan. 

Terlebih, merelakan semua rasa yang pernah saya punya, menghilang bersama dengan potongan memorabilia yang sengaja saya singkirkan.

Selamat datang, Penghuni Baru! :)

December 30, 2013

Prasangka

(c) image
Apa yang terpikir dibenakmu ketika melihat eksekutif muda ini berdiri di dekatmu dalam kereta yang berdesakan sambil membuka tab-nya?

Bayangkan kamu berada disebuah kereta ekonomi non-AC Jabodetabek yang hawanya lumayan panas. Penumpang saling berdempetan. Bahkan kebanyakan penumpang berdiri dan saling menyeimbangkan tubuh agar ga terbawa guncangan gerbong.

Seorang eksekutif muda berdiri berdesakan diantara kamu dan penumpang lain. Dia berpakaian jas elegan dengan sedikit tetesan peluh menghiasi dahinya. Namun diantara penumpang yang lain, dia terlihat berbeda dan bersih. Ga berapa lama berdiri, dia membuka handphone tabletnya yang besar. Lebih besar dibanding handphone pada umumnya. Dia sedang menyelesaikan sebuah percakapan penting dengan rekan bisnisnya. 

Tetiba, semua penumpang menoleh dan melirik dia. Apa yang terlintas dibenakmu melihat eksekutif muda tersebut? Apa yang terlintas dibenak penumpang lain?

Di pintu, ada seorang pemuda lusuh membatin,
'Huh, pamer dia dengan barangnya. Sudah tahu di kereta Ekonomi.'
Di belakang pemuda lusuh itu, seorang pedagang membatin,
'Mentang-mentang sekali HP nya seperti itu dipamerkan. Sudah tahu di kereta Ekonomi.'
Seorang nenek-nenek membatin,
'Orang muda sekarang, kaya sedikit langsung pamer. Naik kereta Ekonomi, pamer-pameran.'
Seorang emak-emak membatin,
'Mudah-mudahan suami saya ga senorak dia. Norak di kereta Ekonomi bukanlah hal terpuji.'
Seorang gadis ABG membatin,
'Keren sih keren, tapi ga banget deh sama gayanya. Kenapa ga naik kereta AC saja kalau mau pamer begituan?'
Seorang pencopet mengintai,
'Ini penghinaan buat gue. Seenggaknya gue ga bakal nilep barang terang-terangan. Nape ni orang ga naek kereta AC aje si? Pamer segala!'
Seorang pengusaha membatin,
'Sepertinya dia baru kenal 'kaya'. Atau dapat warisan. Hhh...andai dia merasakan jerih pahit saya jadi pengusaha; barang tentu saya tidak akan pamer barang itu di kereta Ekonomi. Kenapa tidak naik AC saja sih?'
Seorang ustadz kampung melirik,
'Andai dia belajar ilmu agama, tentu tidak sesombong itu. Urusan pamer, naiklah ke kereta AC.'
Seorang pelajar SMA membatin,
'Gue tau lo kaya. Tapi plis deh, lo ga perlu pamer gitu kalle' ke gua. Gua tuh ga butuh style elo. Kalo lo emang pengen diakuin, lo bisa out dari sini, terus naik kereta AC. Kalo gitu kan, lo bisa pamer abis. Di sono mah comfort gila. Illfeel gue.'
Seorang tentara membatin,
'Nyali kecil, pamer gede-gedean. Dikira punya saya tak segede itu. Kalau mau belagak pamer, pamer sekalian di kereta AC.'
Seorang penderita busung lapar membatin,
'Orang ini terlalu sombong, ingin pamer di depan rakyat kecil. Padahal kereta untuk orang semacam ini adalah kereta AC, bukan kereta ekonomi yang isinya rakyat kecil.'
Seorang mahasiswa di kampus ternama membatin,
'Gue ga tega orang begini idup. Gue agak heran, ni orang nyawanya berape. Belagu amaat! Pengen banget gue usir biar die naik kereta AC aja.'
Sang eksekutif muda tersenyum, kemudian menyimpan tablet besar itu di tas nya. Pikirannya hanya terfokus pada hal yang baru dia selesaikan dengan bantuan tabletnya. Dia tersenyum membatin,
'Alhamdulillah, akhirnya para donatur bersedia membantu semua korban banjir. Alhamdulillah. Ini kabar baik sekali.'
Lalu, dia sempatkan melihat kantong bajunya. Secarik tiket kereta ekonomi berada di dalamnya.

Dia bergumam,
'Tadi sempat tukaran karcis dengan seorang nenek tua yang mau naik kereta sesak ini. Tidak tega saya. Biarlah dia yang naik kereta AC itu. Mudah-mudahan selamat.'
***
Saya ga akan menyimpulkan apa maksud cerita di atas juga sih. Hanya sebagai pengingat saya aja, sebagai manusia biasa mungkin secara ga sadar saya juga pernah sibuk dengan prasangka buruk.


*cerita diambil dari whatsapp ke whatsapp & diedit seperlunya

December 28, 2013

Bucket List of 2014

(c) image
Holiday is in the house yoo'
Translate: Libur telah tibaaaaa.. Hore!

This is end of the year 2013! Kerasa ga sih uda akhir tahun aja gitu. Apa yang uda saya lakuin? Apa yang uda saya rasain? Apa yang uda saya capai sejauh ini? Hmm, saya ga inget! O em ji! Gawat! Kayanya saya mudu minum Cerebrovit deh di 2014!

Tadinya sok-sokan mau bikin kaleidoskop di 2013 ini, tapi apa daya otak ga sampe. Hahaha.

Oke, gini aja. Saya bikin bucket list of 2014 kumaha? Oke aja lah ya. Kan saya penulisnya, suka-suka saya mau nulis apa ya kan. :D

Here we go!

My bucket list of 2014
  • Berenang lebih sering, doing some sport apapun itu deh
  • Less junkfood, hindari gorengan dan makanan berlemak T_T
  • Lebih sehat! I'm overweight, jadi mudu turunin berat tubuh paling ga 18 kg :(
  • Menulis lebih banyak
  • Jalan-jalan lebih sering
  • Minum air putih lebih banyak
  • Nabung lebih banyak
  • Belajar masak, be a good taster for my tongue ;)
  • Banyak senyum, tapi ga senyum sendirian *yakaliiiii *pasangsenyummanis
  • Bertemu & ngobrol dengan lebih banyak orang
  • Make people around me more happier

Thats it!

Cetek banget ya bucket list saya? Huhuhu.. *termenungdipojokan

Gapapa deh, mimpi yang lebih besar ga saya tulis disini soalnya, tapi saya taro 5 cm di depan mata. *senyumalaRalineShah

Happy New Year 2014, friends!

Whats your bucket list?

December 18, 2013

Jeda

Postingan di blogspot bisa di private kaya di wordpress ga sih?
Yaaa keleeeussss, kalo mau private nulis di buku diary aja, Chie. Terus buku diary nya di gembok pake kunci. Terus kuncinya di flush di toilet. Cuusss!!
Mungkin gitu pendapat remaja masa kini mendengar pertanyaan saya.

***

Eniwei, seringkali keinginan menulis blog begitu menggebu ketika saya lagi emosi. Ketika otak penuh tapi saya ga bisa semena-mena ngucap sesuatu pake mulut. Ketika hati panas tapi saya ga bisa semena-mena ngelempar seseorang pake pacul.

Saat itu, menulis adalah terapinya. Menulis memberikan saya jeda. Tombol spasi, backspace, enter, dan delete memberi saya ruang lebih banyak. Ruang untuk mengingat. Ruang untuk menghela. Ruang untuk menata ulang luapan emosi. Ruang untuk lebih menerima. Ruang untuk lebih mensyukuri.

Pada akhirnya, apa yang saya tulis di blog ga se-emosional apa yang ada di kepala saat itu sih. Kembali lagi, pilihan ada ditangan saya. Apakah emosi akan mempengaruhi tulisan ini. Atau tulisan ini yang akan mempengaruhi emosi orang lain.

December 5, 2013

Amin

Hari ini mama saya ulang tahun. Tanggal 5 Desember. Saya bahkan ga menghitung ulang tahun yang ke berapa. Sudah lama saya ga pernah mengingat.

Padahal dahulu, papa saya selalu mengingat tanggal ulang tahun istri dan anak-anaknya. Papa yang membeli kue. Mama yang membuatkan nasi kuning. Kami yang menyiapkan hadiahnya. Bukan hadiah mahal. Hanya sebuah pelukan dan rapalan doa tertera dengan bingkai emas mengelilinginya.

Mama saya mungkin sama seperti mama-mama pada umumnya. Kadang bawel. Kadang perhatian dengan caranya. Kadang yaaa gitu deh. Namanya juga mama-mama. Tapi dibalik bawelnya seluruh mama di dunia, sebenarnya tiap mama hanya menginginkan satu hal buat anaknya, yang terbaik apapun itu.

Kadang saya lupa kalo usia mama udah ga muda lagi. Kadang saya lupa kalo tubuh mama udah ga sekokoh dulu lagi. Kadang saya lupa kalo rambut mama udah ga sehitam dulu lagi. Iya. Kadang saya lupa.

Tapi saya masih ingat. Sekian belas tahun lalu, alasan kenapa saya harus menjejak tanah adalah karena mama.

Dan di ulang tahun mama yang entah keberapa ini. Saya ga akan bilang "i love you, ma" atau menuliskan rapalan doa disini. Di blog saya.

Saya hanya ingin, sekali lagi, merapal doa dalam hati.

Cukup kamu amini.